Metronews.co.id - Aplikasi jahat alias malicious apps berhasil menembus pertahanan Google dan masuk ke dalam Play Store. Aplikasi-aplikasi ini berhasil menjaring 1,2 juta korban.
Biasanya, aplikasi tersebut akan mengambil alih kendali smartphone untuk mengklik iklan yang ada pada situs-situs pornografi, sehingga pemilik situs tersebut akan mendapatkan uang dari para pengiklan.
Aplikasi ini biasanya tidak mencuri data para korban. Kerugian yang dialami oleh korban biasanya berupa paket data internet yang tersedot habis. Meskipun begitu, tidak tertutup kemungkinan, aplikasi jahat ini berkembang dan mulai mencuri data pengguna.
Selama ini, malware pada Android dapat menggunakan daftar korban malware lain untuk mencari target. Peneliti ESET Peter Stancik mengatakan bahwa timnya berhasil menemukan 343 aplikasi jahat yang berhasil masuk ke dalam Google Play Store sejak bulan Agustus lalu.
The Register menyebutkan, ada sekitar 10 aplikasi jahat yang dibuat dan berhasil disusupkan ke dalam Google Play Store setiap minggunya. Para pengembang aplikasi ini berhasil mengelabui mekanisme pemeriksaan aplikasi yang digunakan oleh Google. Dan masing-masing aplikasi jahat tersebut telah diunduh sebanyak rata-rata 3.600 kali.
"Ini adalah salah satu kampanye malware Google Play Store terbesar yang ada. Di sini, para kriminal terus menerus mengunggah varian dari aplikasi jahat mereka ke dalam Play Store," kata Stancik.
"Malware ini tidak hanya berhasil masuk ke dalam Play Store, tapi juga berhasil menginfeksi perangkat pengguna. Setelah aplikasi jahat ini diunduh, maka ia akan memberikan klik palsu pada iklan yang ada pada situs pemasangnya. Sehingga pemilik situs akan mendapatkan keuntungan, merugikan para pengiklan dan juga merusak ekosistem platform pengiklan."
Para peneliti menyebutkan, saat ini, Google masih kesulitan untuk menghapus aplikasi-aplikasi jahat ini dari Play Store.
